Meramal Gempa Besar di Mentawai

Sekitar 121 tahun lalu, terjadi gempa besar berkekuatan 9 skala Richter di perairan Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat. Guncangan yang dahsyat itu menimbulkan gelombang pasang yang menerjang wilayah pesisir barat Pulau Sumatera.

Bahkan pengaruhnya dirasakan sampai Singapura dan Malaysia. Memang, tak ada data pasti tanggal kejadian gempa itu dan kerusakan yang ditimbulkannya. Namun, menurut situs web National University of Singapore, gempa dari jauh pertama yang dirasakan Singapura adalah pada 24 November 1833.

Gempa pada 1833 itu bukan rekaan. Gempa besar yang magnitudonya hampir sama juga terjadi pada 1608 dan 1381. Diyakini, siklus gempa besar itu terjadi dalam kurun waktu 200-300 tahun. Nah, berdasarkan siklus ratusan tahun itu, maka gempa raksasa serupa di Kepulauan Mentawai (Pagai) dapat terjadi lagi dalam kurun waktu 50 tahun mendatang.

Kesimpulan ini merupakan hasil penelitian ilmuwan dari Pusat Penelitian Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (Puslit Geoteknologi LIPI) di Bandung yang bekerja sama dengan Tectonic Observatory, California Institute of Technology (Caltech), Amerika. Mereka meneliti sumber gempa bumi di Pulau Sumatera dan Kepulauan Mentawai yang dilakukan di Kepulauan Mentawai sejak 1993.

Menurut salah satu peneliti itu, Dr. Ir. Danny H. Natawidjaja MSc, penelitian ini dimulai dengan memetakan Patahan Sumatera di sepanjang Bukit Barisan dan mempelajari sumber gempa bumi di bawah laut yang data primernya didapat dari terumbu karang. Dari pola pertumbuhan terumbu karang dapat diketahui gerak turun-naik pulau-pulau selama berpuluh-puluh tahun, bahkan beratus-ratus tahun sampai ribuan tahun ke belakang sehingga diketahui gempa-gempa besar sudah sering terjadi di masa lampau.

Data tersebut menunjukkan bahwa gempa-gempa besar di Sumatera ini adalah suatu proses alam yang terjadi berulang-ulang, atau merupakan siklus alam. Siklus gempa ini mempunyai frekuensi kejadian yang relatif beraturan, yaitu setiap 200-300 tahunan.

Khusus untuk Pulau Siberut, gempa besar terakhir yang diketahui dari mempelajari pertumbuhan terumbu karang terjadi pada pertengahan tahun 1600-an. Artinya, sumber gempa besar di bawah pulau ini sudah “bertiwikrama”–mengumpulkan kekuatan–selama 400 tahunan. “Ini membuat kami curiga bahwa sumber gempa di bawah Pulau Siberut ini bisa jadi calon gempa besar yang akan terjadi lebih dulu di wilayah Kepulauan Mentawai. Baru kemudian disusul gempa besar di Pulau-pulau Pagai dan di Pulau Nias,” kata Danny.

Seringnya terjadi gempa di Kepulauan Mentawai dan Nias serta Pulau Sumatera bersumber di dua zona gempa besar, yaitu Zona Subduksi Lempeng yang terletak di bawah Kepulauan Mentawai dan Kepulauan Nias, serta Zona Patahan Sumatera yang terletak di sepanjang Bukit Barisan.

Kedua zona ini mempunyai potensi gempa yang sangat tinggi. Untuk Patahan Sumatera, dari catatan sejarah dan rekaman seismograf, diketahui rata-rata gempa besar terjadi satu kali setiap dasawarsa. Gempa besar di Patahan Sumatera selama dasawarsa terakhir terjadi dua kali, yaitu pada 1994 di Liwa, Lampung, (skala magnitudo 6,9) dan di Kerinci (7,1 pada skala Richter).

Di Zona Subduksi Lempeng gempa besar malah lebih sering terjadi dan kekuatannya bisa lebih besar, seperti gempa raksasa yang terjadi di bawah Mentawai pada 1833 (8,5-9 skala Richter) dan di bawah Pulau Nias pada 1861 (8,5 skala Richter). Dua-duanya selain mempunyai efek guncang yang luar biasa, juga menimbulkan tsunami besar yang melanda pulau-pulau dan wilayah pesisir barat Sumatera.

Sejak Agustus 2002 tim peneliti juga telah memasang jaringan stasiun permanen GPS (global positioning system) untuk mengukur pergerakan muka bumi dengan akurat. Sampai sekarang sudah terpasang 14 stasiun di Kepulauan Mentawai, Kepulauan Batu, dan di daratan Sumatera.

Dari rekaman alat ini menunjukkan pulau-pulau di barat Sumatera sedang tenggelam dan bergerak mendekat ke arah Pulau Sumatera dalam beberapa sentimeter per tahun. “Ini berarti kita berada dalam masa pemampatan bumi yang dimulai setelah kejadian gempa besar di masa lalu. Pemampatan ini akan terus berlangsung sampai terjadi lagi gempa yang besar di masa datang,” kata Danny.

Jaringan stasiun permanen GPS ini disebut SuGAr Sumateran GPS Array). Rencananya di Pulau Sumatera akan dipasang sampai dengan 34 stasiun. “SuGAr ini akan terus dioperasikan paling tidak sampai 10 tahun mendatang. Selain GPS, kami juga berencana memasang alat modern untuk mencatat gempa bumi lainnya, seperti accellerograph dan seismograf,” Danny menjelaskan.

Mengingat potensi terjadinya bencana gempa dan tsunami di masa depan, menurut Danny, timnya juga membuat program pemasyarakatan ilmu pengetahuan dengan menyebarkan poster dan brosur tentang potensi gempa di Kepulauan Mentawai dua bulan lalu kepada masyarakat. Tahun depan rencana poster dan brosur serupa juga akan disebarkan ke masyarakat umum di pantai barat Sumatera.

“Kami sekarang ini masih terus berupaya membuat pemodelan fisik atau kuantitatif dari proses gempa besar di wilayah ini. Hasilnya nanti dapat dipakai untuk membuat prediksi gempa bumi yang lebih dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Ramalan gempa semacam ini biasa disebut sebagai prediksi gempa jangka panjang,” kata Dhany. febrianti

———————————————————–
Tentang Gempa

1 Apa gempa bumi itu?
Gempa bumi adalah tanah yang berguncang akibat rekahan bumi pecah dan bergetar dengan keras. Daerah di sebelah barat Sumatera mempunyai banyak sumber gempa bumi karena posisinya pada jalur tabrakan lempeng, sehingga lempeng dari lautan bergerak ke arah bawah Sumatera dan menekan tubuh batuan di bawah pulau-pulau.

Selama 10 sampai beratus-ratus tahun, tubuh bumi bergerak secara sangat perlahan dan menekan terus-menerus satu sama lain. Tekanan ini terus

meningkat sampai melampaui kekuatan batuan dan pecah. Pelentingan batuan ini mengangkat pulau-pulau ke atas dan menjalarkan getaran gempa ke sekitarnya.

2 Bagaimana kita tahu bahwa Kepulauan Mentawai tenggelam?

Pantai perlahan-lahan maju menggenangi daratan.

Pohon-pohon besar yang sebelumnya tumbuh di darat, kini terlihat mulai terendam di pantai.

Dari penelitian koral (karang laut) dan pengukuran pergerakan daratan dengan alat modern GPS.

3 Bagaimana terumbu karang menunjukkan naik-turunnya Pulau?

Bentuk terumbu (karang laut) yang menyerupai mangkuk menunjukkan pulau sedang menurun dalam seabad ini di antara peristiwa gempa bumi.

Selama 10 sampai beratus-ratus tahun pertumbuhan karang laut senantiasa merekam peristiwa ketika pulau muncul, dan periode ketika pulau perlahan tenggelam (karang laut tumbuh bebas ke arah muka air laut; setelah setinggi muka air surut karang laut ini hanya bisa tumbuh ke samping; ketika pulau-pulau tenggelam, karang kembali tumbuh ke atas; ketika pulau-pulau terangkat ke atas karena gempa bumi bagian atas koral mati, tetapi bagian bawahnya yang masih di bawah muka air surut dapat terus tumbuh).

4. Apa yang terjadi pada air laut bila tiba-tiba pulau melenting?
Ketika batuan di bawah pulau-pulau melenting ke atas (akibat gempa), pergerakan yang mendadak mengakibatkan air laut menyusut menjauhi pantai. Sesaat kemudian, air laut akan kembali ke pantai membentuk gelombang pasang yang disebut tsunama. Ukuran gelombang tsunami bisa kecil (hanya puluhan sentimeter) hingga sangat besar (puluhan meter).

5. Apa yang harus dilakukan?
Gempa bumi dapat terjadi tiba-tiba tanpa ada pemberitahuan. Namun, kita dapat membuat persiapan untuk memperkecil dampak kerusakan yang ditimbulkannya. Pertama, membekali diri dengan pengetahuan tentang gempa bumi. Kedua, dengan mempelajari cara-cara menghindari bahaya dari gempa bumi besar di masa datang.

Bangunan yang terbuat dari kayu dan bahan-bahan ringan lainnya akan lebih aman daripada yang terbuat dari bahan-bahan berat. Benda yang ringan akan lebih tidak berbahaya apabila berjatuhan pada waktu gempa bumi.

Daratan yang lebih tinggi dari pantai adalah tempat yang baik untuk menghindari terjangan gelombang tsunami yang biasa menyertai gempa bumi.

sumber : tempo.co.id

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: